FREE RIDE: JOGJA (KEMBALI) BERSEPEDA
A.Pendahuluan: Mengapa bersepeda ?
"Bagi saya, sepeda adalah teman yang ajaib. Saya sangat kagum dengan kerja "mesin kecil" yang menempel pada ragangan sepeda itu. Sebuah alat kecil yang "canggih", futuristik dan sekaligus kuno disisi lain." –cyclistreport
Sebuah deskripsi yang menarik tentang sepeda seperti pernyataan pembuka di atas tidak lagi lazim terdengar kini. Terlebih dalam masyarakat yang secara pasti bergerak menuju sikap mengkonsumsi tanpa henti, sepeda hanyalah suatu pijakan awal sebelum kendaraan bermotor.
Mengapa bersepeda, adalah sebuah pertanyaan sederhana yang telah menuai beragam jawaban. Walau dapat menimbulkan diskusi panjang dengan sudut pandang yang berlapis, seringkali reaksi langsung yang diterimanya adalah gelengan kepala. Bagi segelintir orang yang (mencoba) secara konsisten memilih sepeda sebagai alat transportasi utama –juga terkait dengan hobi, segala isu lingkungan dan kesehatan, maupun solidarisme kelompok- ia bukan lagi sebentuk besi beroda yang menyenangkan melainkan telah bertransformasi sebagai alternatif yang mampu menjadi jawaban yang sederhana bagi beberapa masalah sepele yang terakumulasi, bagai sebuah bola salju yang menggelinding jatuh: polusi, masalah energi, kemacetan. Mengendarai sepeda pun menjadi sebuah sikap politik dari individu yang merasa paling apolitis sekalipun.
B. Free Ride: Jogja (Kembali) Bersepeda
Walau pernah dikenal dengan sebutan kota sepeda, tanpa harus membuka mata lebar-lebar, kita semua tahu bahwa Jogjakarta sama sekali tidak berada dalam zona ramah sepeda. Lupakan segala romantisme itu jika infra struktur dan tingkat kesadaran yang paling sederhana seperti ketersediaan tumbuhan sebagai supplier oksigen maupun jalur sepeda atau pemakaian properti pengaman yang tidak diindahkan bahkan oleh pesepeda sendiri. Bagaimana pula dengan pencanangan hari Jumat sebagai hari bersepeda oleh pemerintah kota? Tinggal slogan cantik yang terlantar di sudut kota.
Sebagai respon terhadap kondisi diatas, Kinoki, Cyclistreport, dan Green Map Jogja berinsiatif untuk mengadakan program yang bersifat terbuka dan partisipatoris. Secara sederhana, program ini membuka diri terhadap setiap individu, komunitas dan lembaga yang tertarik dan peduli terhadap isu yang dikembangkan untuk berinteraksi dan berpartisipasi aktif dalam usaha perwujudannya.
Free Ride: Jogja (Kembali) Bersepeda bukan saja kampanye untuk kembali memasyarakatkan sepeda sebagai alat transportasi yang murah, sehat dan ramah lingkungan, lebih dari itu suatu upaya dalam membangun kesadaran umum terhadap pengadaan berbagai fasilitas yang dibutuhkan untuk kenyamanan masyarakat bersepeda.
Pengendara sepeda secara umum dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok utama yaitu bersepeda berdasarkan hobi, berdasarkan ideologi tertentu, serta bersepeda sebagai satu-satunya alat transportasi yang mungkin dimiliki. Berdasarkan pemetaan tersebut, masalah sepeda dalam lingkup urban / perkotaan kemudian dapat dirinci sebagai berikut:
1.Jalan Raya / Umum Masalah yang ditemukan ketika pesepeda maupun masyarakat non mesin lainnya (pejalan kaki, andong, becak) mengakses jalan raya adalah adanya suatu pandangan yang arogan bahwa jalan raya semata milik kendaraan bermotor. Tidak adanya rambu dan parkiran khusus sepeda, trotoar yang semakin sempit, dan kendaraan bermotor yang melaju dengan kecepatan tinggi menggusur ruang bagi pengendara sepeda dan pejalan kaki.
2.Lingkungan Hidup Polusi dari kendaraan bermotor yang semakin tinggi tidak dapat diimbangi dengan jalur hijau yang dibangun pemerintah. Taman kota yang harusnya menjadi paru-paru kota telah direduksi fungsinya sebagai unsur keindahan belaka.
3.Kondisi Sosial Pengendara sepeda dianggap menganggu kelancaran lalu lintas, sehingga seringkali harus tersingkir dari jalan raya, dan berbagi bahu jalan dengan pejalan kaki dan pedagang keliling. Anggapan ini juga terbangun karena pemikiran bahwa sepeda hanyalah langkah awal berkendaraan sebelum mencapai kendaraan bermotor, sehingga secara status ekonomi dan sosial mereka yang (masih) bersepeda secara tidak langsung dapat digolongkan sebagai "warga kelas dua".
C. Aksi Langsung : Sahabat Sepeda !
Menyimak pemaparan tersebut, aksi langsung kiranya merupakan sesuatu yang realistis dan mendesak. Program ini berupaya untuk menggalang aksi langsung berdasarkan segala insiatif yang mungkin dilakukan oleh setiap individu/ komunitas/ lembaga yang peduli, sesuai dengan kapasitasnya masing-masing.
Bagi individu/ komunitas/ lembaga yang ingin membagi sedikit ruang privat/komersilnya, berikut beberapa langkah yang dapat ditempuh:
1.Memasang tanda sahabat sepeda, dapat mengikuti logo yang sudah ada tanpa menutup kemungkinan untuk menciptakan sendiri logo sesuai dengan karakter masing-masing partisan dengan tetap mengindahkan fungsi komunikatifnya.
2.Dengan menjadi sahabat sepeda, berarti anda bersedia menyokong berbagai (beberapa) fasilitas yang dibutuhkan oleh pesepeda, antara lain parkiran sepeda, air minum gratis, kamar mandi/ pancuran (shower) untuk menyegarkan diri, dll.
3.Berpartisipasi dalam mengkampanyekan sepeda sebagai alat transportasi, melalui berbagai media yang dimiliki (dapat diakses) oleh partisan. Secara nyata, dapat berupa sokongan terhadap ketersediaan materi (film/video, tulisan di media massa, buletin, jurnal penelitian, dll) dalam pertemuan rutin Free Ride:Jogja (Kembali) Bersepeda yang telah disepakati bersama, atau memasukkan isu ke dalam program reguler masing-masing partisan, sebagai satu bagian yang menyatu dengan ideologi maupun bidang yang sudah ditekuni selama ini.
Langkah-langkah di atas hanyalah sebagian contoh kecil dari aksi langsung yang dapat dilakukan oleh setiap individu/ komunitas/ lembaga yang ingin berpartisipasi aktif sebagai bukti nyata kepeduliannya. Segala kemungkinan pengembangan aksi dapat dijajaki bersama dan disesuaikan dengan kapasitas masing-masing partisan. Inti dari peluncuran Sahabat Sepeda adalah membangun kepedulian massal terhadap isu ini melalui tindakan nyata dengan menghindari sentralistik pada satu kelompok atau wilayah saja. Free Ride : Jogja (Kembali) Bersepeda maupun menjadi Sahabat Sepeda, tidak berusaha menjadi jawaban utama atas segala permasalahan besar yang ada, hanyalah suatu tindakan kecil untuk mengatasi beberapa masalah remeh yang telah menggunung. Sebuah gunung polusi, kemacetan, masalah penghematan energi dan uang, serta entah apa lagi yang sangat mungkin dirobohkan dengan "hanya bersepeda".
Mari, jadilah Sahabat Sepeda !
Posted at 10:41 pm by sicutdei